HOME
ABOUT
INFORMASI PPDB
PROFILE
EMAIL
ALUMNI
GALLERY
MENU PEMBELAJARAN
CARRIER
EVENT
ARTICLE
DOWNLOAD

Senin, 1 September 2014

Informasi PPDB


DAFTAR UNIT :



IP Address : 54.226.18.74
Pengunjung : 20.740






Newsflash :
SD TARAKANITA SOLO BARU MEWAKILI PROPINSI JAWA TENGAH MENGIKUTI PENILAIAN SEKOLAH SEHAT TINGKAT NASIONAL, KAMIS 18/6/14.             |             GABRIELLE MINTARJA, SMP TARAKANITA MAGELANG, LOMBA BULUTANGKIS TINGKAT NASIONAL, JAKARTA 17/6/14.             |             ALEXANDER DEWANTA CHANDRA YOGATAMA (SMP STELLA DUCE 2) LOMBA CIPTA LAGU DAN YOHANES LEO SANDIWAN (SMA STELLA DUCE 3) LOMBA POSTER FLS2N JUNI 2014.             |             DIOLA NATANIA BHINNELIKA DARI SMP TARAKANITA CITRA RAYA JADI DUTA SANITASI WAKILI PROV. BANTEN DALAM JAMBORE NASIONAL, JAKARTA 15-22/6/2014             |             VOCAL GROUP SMP SINT. CAROLUS & ELISABETH SEMBIRING SMA SINT. CAROLUS WAKILI PROVINSI BENGKULU DALAM FLS2N, SEMARANG 3-7/6/2014             |             ELYSABETH SEMBIRING DARI SMA ST. CAROLUS BENGKULU BERHASIL CAPAI FLS2N SOLO VOKAL TINGKAT NASIONAL, JUNI 2014 DI SEMARANG.             |             KEVIN ARYA LIEM DARI SD TARAKANITA MAGELANG RAIH PERINGKAT III IPA & BILLY PERINGKAT HARAPAN III MATEMATIKA PADA KOMPAS STUDENT COMPETITION 2014 DI SEMARANG             |             PROFICIAT & SELAMAT PESTA 177 TAHUN KONGREGASI SUSTER-SUSTER CB & 62 TAHUN YAYASAN TARAKANITA, 29/4/14.             |             PENGURUS OSIS DAN EKSTRAKURIKULER SMA/K TARAKANITA JAKARTA DAN TANGERANG MENGIKUTI LDK DI CANOSSA 23-25/4/14             |             300 PERWAKILAN SEKOLAH TARAKANITA JAKARTA MELAKUKAN PENANAMAN POHON DI BANTARAN CILIWUNG-CONDET 22/4/14.

SEJARAH “PIUS X”

Merupakan Kompilasi dari:

Pendidikan Nilai dan Aktualisasi Pius X” oleh Sr. Christera Sri Rudati CB dalam “Perempuan Memandang Dunia Global” (Bambang Eka Prasetya, Editor), Jakarta 2003,

dan

“Lintasan Sejarah SGKP-SKKA-SMKK Pius X Magelang” oleh Yustinus Kawit dalam “ Melangkah Menuju Kemandirian”, Buku Kenangan Pancawindu Pius X (Bambang Eka Prasetya, Editor), Magelang 1994.

    

Bagian I

Awal Satu Perjalanan, 1953 – 1964

 

1. Lahir dalam Era Revolusi            

Perang dunia kedua (1938-1945) menghancurkan bangunan-bangunan penting di berbagai kota. Infrastruktur juga hancur berantakan, sehingga dalam beberapa saat berbagai kegiatan kehidupan mandeg. Sebagai contoh sekolah-sekolah ditutup untuk sementara waktu.

Tujuh belas Agustus 1945, perang selesai. Indonesia lepas dari cengkeraman penjajah, baik dari penjajah Jepang maupun Belanda. Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara merdeka, yang diperoleh atas kekuatan sendiri.

Semangat juang bangsa Indonesia sungguh menyala-nyala untuk tetap mempertahankan kemerdekaan bangsanya. Semangat ini juga menyulut para pelajar, orang-orang muda. Mereka membentuk angkatan yang bernama: Tentara Pelajar Republik Indonesia atau dengan singkat disebut Tentara Pelajar saja, dan disingkat TP. Mereka itulah yang berhasil mengusir tentara Belanda yang menduduki Yogyakarta tahun 1948. Bangunan-bangunan yang tinggal puing-puing itu tetap dijaga oleh TP agar tidak diduduki atau dikuasai oleh anasir-anasir yang mencari keuntungan sendiri. Itu terjadi juga dengan gedung-gedung persekolahan Katolik, termasuk kompleks persekolahan Jl. Pemoeda Oetara 20 (Sekarang Jl. Jendran A. Yani 20) Magelang milik Suster-suster OSF di Semarang, dan masih banyak lagi yang dapat diselamatkan berkat kegigihan rakyat dan TP.

Sesudah perang selesai semua orang ingin membangun hidup baru dengan apa yang ada. Instansi-instansi pemerintah maupun swasta berpacu memulai dengan kegiatan masing-masing. Dunia pendidikan yang praktis terhenti selama kurang lebih lima tahun mulai menggeliat lagi.

Gereja Indonesia dalam menaggapi pemulihan kembali kehidupan bangsa tidak kalah sigap dengan derap gerakan para tokoh atau pemikir-pemikir keselamatan bangsa. Yayasan-yayasan Katolik penyelenggara sekolah diminta oleh Gereja segera membuka sekolahnya. Pada umumnya saat itu penyelenggara sekolah-sekolah adalah para biarawan dan biarawati. Pimpinan Gereja minta jangan sampai ada satu sekolahpun dibiarkan tidak dipakai. Entah bagaimana caranya, misalnya merenovasi bagian reruntuhan dan puing-puing bangunan yang tidak terlalu berat kerusakannya, sehingga dapat menerima murid-murid yang sudah lama terhenti kegiatan belajarnya.

Komplek persekolahan di Magelang yang cukup besar milik Ordo Suster Fransiskus di Semarang  tidak segera dapat dihidupkan, mengingat suster-suster OSF mempunyai banyak kompleks persekolahan di beberapa kota. Di Semarang ada tiga kompleks besar yang harus segera dipulihkan kembali. Dengan demikian kompleks persekolahan Magelang sampai tahun limapuluhan belum dapat segera berfungsi.

Melihat keadaan itu, bapak Uskup Semarang menulis surat kepada pemimpin Suster-suster CB di Yogyakarta, Sr. Laurentia de Sain CB, isinya menanyakan apakah tarekat CB bersedia membuka sekolah baru di Magelang, yaitu Sekolah Guru Kepandaian Putri. Alasannya, di banyak kota dibuka sekolah-sekolah kepandaian puteri (SKP). Sekolah-sekolah ini membutuhkan guru-guru kejuruan. Surat Mgr. Soegijopranoto SJ tertanggal 28 April 1953 menyatakan:

‘Dengan rendah dan gerak hati kami mohon soedi apalah kiranja Padoeka Iboe berkenan memperoesahakan diri oentoek seboeah SGKP di Magelang dengan idjin dan pertolongan sepatoetnja dari instansi jang bersangkoetan. …Oleh karena di Vikariat Semarang Missie telah mempoenjai SKP di beberapa tempat dan berharapan poela akan memboeka SKP di lain tempat, sebab kami sendiri jakin , SKP jang dipertinggi mata peladjaran dan pendidikannja adalah satoe-satoenja sekolah jang amat ahli asli oentoek mempersiapkan calon iboe jang mengerti akan tanggoengannja dan toegas kewajibannja, baik dalam roemah tangga maoepoen di medan pergaoelan hidoep dewasa ini. Daripada itoe kami sangat memboetoehkan goeroe-goeroe jang coekoep cakap dalam segala-galanja oentoek mengoeroes dan memimpin SGKP, lagi poela mendidik moerid-moeridnja. (Surat Mgr. Soegijopranoto SJ kepada Sr. Laurentia de Sain CB, arsip Keuskupan Agung Semarang, Map B. VI. 2)

 

Pemimpin suster-suster CB bersedia menerima permintaan bapak Uskup itu, dan mendapat restu dari pimpinan pusat di Maastricht, Belanda. Tentu saja selanjutnya bapak Uskup membicarakan hal tersebut dengan pimpinan Suster-suster OSF di Semarang, dan minta agar Suster-suster OSF merelakan komplek persekolahan mereka di Magelang, dipergunakan oleh Suster-suster CB. Pimpinan suster-suster OSF menyetujuinya. Pembicaraan selanjutnya diselesaikan antara kedua belah pihak (para suster), kepemilikan kompleks itu beralih dari suster-suster OSF ke suster-suster CB dengan baik.

Di tempat itulah Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) Pius X lahir, di antara puing-puing reruntuhan gedung-gedung bertingkat yang cukup parah. Tempat ini terletak pada pinggir jalan raya kota Magelang, yang kemudian bernama Jalan Jendral Ahmad Yani, bernomor 20.

Di antara reruntuhan puing-puing yang cukup parah itu, ada sebagian yang masih dapat direnovasi  secara cepat. Kemudian dipakai sebagai kelas-kelas dan asrama. Para siswa tidak mengeluh, bahkan dengan senang hati memulai belajar. Inilah berkat semangat revolusi yang mewarnai berdirinya SGKP Pius X. Perjuangan untuk membangun, baik dari segi fisik dan manusianya dilaksanakan ala kadarnya yang penting tidak panas karena terkena sinar matahari, dan basah karena hujan.

Putri-putri yang masuk pertama kali, September 1953, adalah angkatan muda yang mengalami apa artinya perang dan akibat-akibatnya. Di lain pihak mereka lahir dari keluarga-keluarga yang mengalami kehidupan pada jaman Belanda. Kebanyakan mereka berasal dari keluarga yang berpendidikan, berkedudukan dalam masyarakat, dan berduit. Dengan kata lain orang-orang muda ini membutuhkan satu pendekatan khusus dari pihak pimpinan SGKP Pius X untuk memasuki pendidikan era kemerdekaan dan mempersiapkan mereka sebagai guru-guru yang mempunyai semangat nasionalis. Tugas ini tidak mudah karena mengantar orang muda memasuki  budaya baru, yaitu budaya Indonesia merdeka, pasti membutuhkan banyak penyesuaian. Untungnya orang-orang muda ini sedikit demi sedikit mampu menyerap semangat perjuangan.

 

2. Perjuangan Awal (1953-1960)

SGKP Pius X dibuka 3 September 1953,  bertepatan dengan kanonisasi Bapa Suci Pius X. Maka Santo Pius X dijadikan pelindung sekolah yang baru didirikan pada tahun itu. Siswa-siswa berdatangan dari Magelang dan berbagai kota di sekitarnya. Untuk murid-murid yang datang dari luar kota, Pius X menyediakan asrama. Asramapun amat sederhana. Cukup untuk menampung sekitar 30 sampai 40 penghuni.

Dengan adanya asrama, pelajaran keputrian baik teori maupun praktik dapat diterapkan dengan baik. Selain itu di asrama mereka dapat belajar bekerjasama, disiplin, belajar teratur, dan rapi. Karena tempatnya memang sempit, tempat tidur bukan susun dua saja, tetapi sampai dengan bersusun tiga.

Sebelum SGKP Pius X Magelang berdiri, di Indonesia hanya ada SGKP Negeri saja. Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kelahiran SGKP Pius X Magelang berdirilah SGKP Katolik di Surabaya, Malang, dan Medan.  Dari sejarahnya SGKP adalah sekolah “standing”, artinya sekolah yang mempunyai kedudukan tinggi. Kebanyakan siswa-siswa datang dari keluarga menengah ke atas. Biayanya cukup mahal. Keadaan itu tidak lain dari warisan sistim pendidikan jaman Belanda yang sangat membatasi rakyat kebanyakan untuk menikmati pendidikan yang lebih baik.

Pada jaman Belanda hanya ada dua sekolah semacam SGKP, bernama GOSVO (Governemen Opleiding School voor Vak Onderwyzeressen), di Jakarta, dan OSVO (Opleiding School voor Onderwijzeressen) di Surabaya, (wawancara dengan Aswarini, mantan Kepala SGKP Negeri Yogyakarta, 1952-1964). Model sekolah itu dilanjutkan pada jaman Jepang dan Republik Indonesia, bernama SGKP. Sangatlah wajar ketika SGKP jaman Jepang dan kemerdekaan itu, gaya dan kurikulumnya masih diwarnai model SGKP jaman Belanda, belum berorientasi kepada kebutuhan rakyat biasa.

Di samping itu, beberapa tahun sesudah kemerdekaan Indonesia, situasi masyarakat juga belum banyak berubah. Situasi sosial ekonomi kebanyakan rakyat masih rendah. Hidup mereka sangat sederhana. Perkara keputrian dan kerumahtanggaan belum mendapat perhatian seperti sekarang.

Tujuan SGKP Pius X dirumuskan oleh kepala sekolah pertama, Sr. Chantal Jonckbloedt CB sebagai berikut: “SGKP tidak hanya menjadi persemaian guru wanita masa depan yang mahir, akan tetapi juga pesemaian ibu-ibu dan pendidik masa depan bagi warga negara dan warga surga kelak, ibu-ibu yang terdidik baik dan modern untuk menghadapi tugas-tugasnya.”

Masalah besar yang dihadapi SGKP saat itu ialah kurangnya guru kejuruan keputrian dan guru bidang studi yang mendukung pendidikan calon guru, seperti ilmu kependidikan, psikologi, didaktik, dan metodik. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan mendatangkan guru-guru dari Yogyakarta. Namun untuk mendapatkan guru-guru bidang studi kejuruan, memang sangat sulit.

Kesulitan itu dipecahkan  Kepala Sekolah dengan mengikuti pepatah: “jika tak ada rotan akarpun berguna”. Ada beberapa guru yang memang mempunyai profesi dalam bidang kejuruan keputrian tetapi tidak mempunyai kewenangan mengajar di SGKP. Guru-guru semacam ini diminta untuk mengajar. Apa boleh buat, “the show must go on”.

Selanjutnya mengenai tenaga guru kejuruan, Yayasan mengirim seorang guru lulusan SGKP Negeri untuk ditugasbelajarkan ke jenjang B1 di Jakarta, setara dengan Sarjana Muda. Tujuannya mempersiapkan guru yang memenuhi kualifikasi dan kewenangan mengajar di SGKP Pius X. Dengan adanya guru seperti itu dapat mengukuhkan status SGKP Pius X di kalangan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sekaligus dalam berelasi dengan SGKP Negeri yang ada. Jika dikatakan secara manusiawi Pius X mempunyai kepercayaan diri. Untuk memperkuat staf guru kejuruan, Pimpinan suster-suster CB di Maastricht, Belanda, mengirim seorang misionaris, suster Christophore van Heuvel CB (alm). Suster Christophore mengajar di Pius X selama 26 tahun. Ia menjadi “soko guru” jurusan busana, karena keahlian dan pengalamannya sungguh-sungguh dapat diandalkan. Sebagian guru-guru jurusan busana Pius X pada saat ini, adalah hasil pendidikan Sr. Christophore CB.

Dalam keadaan semacam itu, Pius X terus berjalan sambil berusaha keras memperkuat dan memperkokoh eksistensi lembaganya. Eksistensi bukan sebatas dapat hidup, tetapi harus dapat “survive” (bertahan) untuk mencapai tujuan akhir, yaitu menamatkan angkatan pertama, dan berharap murid-murid angkatan pertama dapat ikut ujian negara, sehingga mereka mendapat pekerjaan.

Untuk menuju keberhasilan tersebut ternyata banyak hal yang menjadi penghalang, antara lain karena SGKP Pius X Magelang belum mendapat ijin mengikuti ujian negara dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, mungkin status SGKP Magelang belum memenuhi persyaratan yang diharuskan oleh Depdikbud.

Pada saat itu memang tidak mudah bagi sekolah baru untuk dapat menempuh ujuan negara. Entah ujian dilakukan secara menginduk atau di sekolah sendiri. Suster Chantal selaku kepala sekolah  telah berusaha menembus pintu-pintu resmi, antara lain kantor pendidikan dan kebudayaan, tetapi tetap belum berhasil.

Waktunya mendesak bahwa ujian akhir untuk kelas empat, kelas terakhir SGKP harus terjadi. Pius X tidak boleh mengecewakan murid-murid yang mempercayakan diri pada lembaga ini, tamat tanpa memegang ijasah. Harus dicari jalan lain.

Jalan terakhir ialah mengadakan ujian gabungan dengan ketiga SGKP Katolik yang ada, yaitu dengan SGKP Surabaya, Malang, dan Medan. Ketiga SGKP itu mengalami nasib yang sama seperti Pius X. Ujian gabungan dipersiapkan. Penyelenggaraannya ditempat masing-masing dengan soal-soal ujian yang telah dipersiapkan oleh panitia ujian gabungan ke empat SGKP tersebut. Dari ujian ini murid-murid SGKP kelas empat yang lulus, mendapat ijasah sekolah.

Ternyata lulusan ujian gabungan ini banyak yang memperoleh pekerjaan, yaitu menjadi guru SKP swasta yang mulai berkembang dimana-mana. Bahkan ada juga yang diminta mengajar di SGKP swasta, karena memang sangat sedikit jumlah guru yang berkewenangan mengajar di SGKP. Begitulah situasi pendidikan jaman itu.

Perjuangan Pius X  untuk dapat ikut serta ujian negara dengan menginduk SGKP Negeri yang terdekat di Yogyakarta, memang tidak mudah. Namun beberapa tahun kemudian murid-murid SGKP Pius X memang diperbolehkan ujian menginduk ke SGKP Negeri Yogyakarta. Sayang hasilnya juga belum  memuaskan.

 

3. Perubahan Arah

Sementara itu para pendekar dan tokoh-tokoh pendidikan di Jakarta melihat prospek baru mengenai pendidikan keputrian di Indonesia. Mereka berpandangan bahwa SGKP harus diubah menjadi sekolah yang prospeknya lebih jauh ke depan, yaitu memberi kesempatan luas kepada gadis-gadis untuk dapat memasuki lapangan kerja yang berkembang di mana-mana. Sebenarnya SGKP memberi jaminan baik, karena setelah lulus dapat menjadi guru.

Banyak orang menyayangkan dengan ditutupnya SGKP. Pertama-tama lulusan SGKP masih sangat dibutuhkan oleh SKP-SKP. Padahal pendidikan di SKP jika dilakukan dengan baik, sangat berguna bagi gadis-gadis yang tidak dapat atau tidak berminat melanjutkan belajar.

Akhirnya keputusan dari pusat jelas, yaitu SGKP dialihkan menjadi Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKA) pada tahun 1961. Pada saat itu SGKP tidak menerima siswa baru. Calon-calon yang mendaftarkan secara otomatis menjadi siswa SKKA. Dari mereka tak ada komentar, juga dari pihak orang tua. Yang penting mereka dapat menyekolahkan putri-putri mereka. Sementara itu kelas dua, tiga, dan empat SGKP masih harus dilayani, sampai masing-masing dapat menempuh ujian akhir.

SKKA berjalan tanpa arah yang jelas, karena kurikulum yang ditetapkan belum sejalan dengan kebutuhan akan ketrampilan yang dibutuhkan oleh para peserta didik, sebagaimana sekarang disebut kurikulum berbasis kompetensi. Tidak mengherankan jika perubahan SGKP ke SKKA belum berarti apa-apa dalam kaitannya mempersiapkan siswa SKKA  dapat memasuki dunia kerja yang lebih luas.

Upaya Yayasan Tarakanita untuk mempersiapkan guru yang berwewenang mengajar di SKKA, diwujudkan dengan memberi tugas belajar kepada Sr. Christera Sri Rudati CB ke IKIP jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga (IKK) di Jakarta pada tahun 1961-1964.

 

Bagian II

Masa Transisi menuju Perubahan, 1964 – 1984

1. SKKA Pius X Berbenah Diri.

SKKA berjalan selama sepuluh tahun dengan model mirip dengan SGKP. Hal itu disebabkan tidak jelasnya arah SKKA. Ketrampilan-ketrampilan mengolah boga dan busana ditingkatkan. Tetapi hasil pengolahan itu baru tertuju bagi diri sendiri. Produk jurusan Busana masih mendingan, dapat disimpan dan dipakai beberapa bulan atau tahun kemudian. Tetapi produk jurusan Boga? Dimakan habis. Hal itu sesuatu yang fatal. Praktik berikutnya, sampai lulus terus menerus menghabiskan biaya. Semakin modern, biaya semakin mahal. Orang tua semakin menderita, karena biaya semakin tinggi. Proses pembelajaran semacam itu mengarah ke pola hidup konsumtif, bukan produktirf. Dengan cara itu lulusan SKKA tidak dapat bekerja secara produktif. Apabila diterima bekerja oleh sebuah instansi, belum tentu dapat melewati masa percobaan. Bisa dikeluarkan, akhirnya menganggur. Membuka usaha mandiripun akan mengalami banyak kesulitan.

SKKA Pius X harus beraktualisasi diri, menyesuaikan pelayanannya dengan kebutuhan yang sedang terjadi, yaitu kebutuhan masyarakat, khususnya angkatan muda, siswa-siswa Pius X.

2. SMKK Pius X Magelang Merintis Hubungan dengan Industri.

3. SMK Pius Magelang dengan Pendidiakn Sistem Ganda.

 

Bab III

MEMBANGUN INSAN BERKOMPETEN

Catatan 1:

Kepala Sekolah “Pius X” dari masa ke Masa

 

Sr.Chantal Jonckbloedt CB

Kepala SGKP “Pius X”

1953 – 1957   

 

Sr. Marie Consolota CB

Kepala SGKP/SKKA “Pius X”

1957 – 1965   

 

Dra. Sr. Christera Sri Rudati CB

Kepala SKKA/SMKK “Pius X”

1965 – 1987   

Dra. Sr. Marian Clara Mentasir CB

Kepala SMKK “Pius X”

1987 – 1996   

 

Dra. Sr. Elsa Maryudah CB

Kepala SMKK/SMK “Pius X”

1996 - 2001

 

Robertus Djumadi Kristiyono, S.Pd

Kepala SMK “Pius X”

Periode 2001 – 2006

 

 

 

 

 

 

 

Dra. Sr. Lidwiana Purna Harjani, CB.

Kepala SMK “Pius X”

Periode 2006 - 2012

Catatan 2:

Kurikulum Pius X dari Masa ke Masa

 

Kurikulum Pertama:

Pada awal berdiri SGKP Pius X melaksanakan pemelajaran berdasarkan kurikulum

GOSVO (Governemen Opleiding School voor Vak Onderwyzeressen) dan OSVO (Opleiding School voor Onderwijzeressen), sekolah semacam SGKP pada jaman Penjajahan Belanda yang disesuaikan dengan kondisi jaman Kemerdekaan.

(Dilakasanakan pada tahun 1953 – 1964 dengan masa belajar selama 4 tahun)

 

Kurikulum Kedua:

Kurikulum Sekolah Kesejahteraan Keluarga tigkat Atas (SKKA), kurikulum nasional pertama yang digunakan oleh SKKA Pius X Magelang pada tahun 1964 sampai dengan tahun 1976. masa belajar selama 3 tahun.

 

Kurikulum Ketiga:

Kurikulum SMKK 1976, yang diselenggarakan mulai tahun ajaran 1977.

 

Kurikulum Keempat:

Kurikulum SMKK 1984.

 

Kurikulum Kelima:

Kurikulum SMK 1999

 

Kurikulum keenam

Kurikulum 2004, KTSP 2006, KTSP 2008